cara membuat tempat sampah dari bambu
Adalahhal yang wajar jika setiap rumah pasti menghasilan kotoran atau sampah yang didapat dari memasak, makan atau kegiatan yang lain. Sehingga setiap rumah pasti juga membutuhkan tempat untuk membuang sampah tersebut. Jika tinggal dikota-kota besar, sampah rumah tangga ini akan dibawa oleh petugas kebersihan untuk dibawa ke tempat pembuangan sampah akhir atau TPA.
CaraMembuat Tempat Sampah Dari Kayu Dan Bambu. Tripleks atau kayu solid untuk Anda juga bisa menempelkan lebih dari satu tabung bambu supaya kotak pensil Loncat ke konten
Batokkelapa terkadang hanya dianggap sebagia limbah dan lebih banyak dijadikan sebagai bahan dasar arang, namun ternyata, banyak kreasi yang bisa kita ciptakan dengan batok atau tempurung kelapa tersebut salah satunya dengan membuatnya menjadi kerajinan tas cantik dan unik dari bahan dasar kelapa ini.
TempatSampah Dari Koran Bekas (Warren Cohen) Cara Membuat Tempat Sampah Dari Botol Plastik Bekas. Buat pola telinga dan hidung babi untuk membuat celengan semakin menarik. Tempat Aksesoris/Perhiasan Punya banyak aksesoris atau perhiasan tapi nyimpan nya berantakan, kreasi dari botol bekas satu ini patut kamu coba selain dapat memperindah meja
Secaramandiri, Ujang membuat tempat pembuangan sampah dari bambu sejak 3 bulan lalu. Sedikitnya sudah ada 50 tempat sampah yang dibagikan secara cuma-cuma kepada masyarakat mulai dari lingkungan RW. "Dibuatkannya tempat sampah ini untuk mengurangi dampak negatif dari sampah serta agar kebersihan lingkungan dapat terjaga," ujarnya, tidak lama ini.
Site De Rencontre Belge Et Gratuit. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. SAMPAH menjadi salah satu problematika di Indonesia. Padahal, sering kita temui peringatan bertuliskan 'Dilarang membuang sampah sembarangan'. Namun, masih saja ada masyarakat yang acuh tak masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan khususnya membuang sampah sembarangan mungkin dirasa kurang menarik jika hanya mengandalkan tulisan umum bersifat himbauan ataupun larangan. Sampah merupakan material sisa yang menjadi salah satu faktor penentu dalam kebersihan lingkungan. Di RW 04 Negla, Kelurahan Isola sendiri ketersediaan tempat sampah masih sangat kurang. Kurangnya penyediaan tempat sampah pada daerah ini melatarbelakangi akan pelaksanaan program kerja ketiga yaitu penyediaan tempat sampah. Dokumentasi pribadi Tempat sampah yang disediakan terbuat dari bambu dan kayu bekas yang sudah tidak terpakai di daur ulang menjadi tempat sampah. Adapun jumlah tempat sampah yang dihasilkan adalah 5 buah tong sampah dengan dua macam ukuran yaitu, 20x20x50cm dan 20x50x20cm. Dokumentasi pribadi Tempat sampah yang sudah jadi pun kemudian ditempatkan pada area yang strategis atau umum dikunjungi masyarakat. Program ini diharapkan dapat membantu menjaga kebersihan lingkungan setempat dan menghimbau masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Lihat Ruang Kelas Selengkapnya
Pengetahuan serta kesadaran tentang hidup bersih dan sehat bebas sampah sangat penting bagi masyarakat tidak hanya di kota tetapi juga di desa. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan di Desa Talaga masih rendah diamati dari sampah yang berserakan di lingkungan serta tidak tersedianya tempat sampah di rumah maupun di tempat umum. Pengabdian ini bertujuan untuk menambah pengetahuan serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya serta mengajarkan membuat Patsambu tempat sampah bambu. Bentuk kegiatan berupa sosialisasi tentang lingkungan bersih dan sehat bebas sampah bebas bencana serta pelatihan kepada warga untuk membuat tempat sampah dengan memanfaatkan bahan yang ada di alam yaitu bambu menjadi Patsambu Tempat Sampah Bambu. Hasil kegiatan yaitu bertambahnya pengetahuan dan wawasan masyarakat mengenai pentingnyamenjaga lingkungan bersih dan sehat bebas sampah serta meningkatnya ketrampilan warga dalam membuat tempat sampah bambu atau Patsambu . Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free KAIBON ABHINAYA JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT e-ISSN 2657-1110 Patsambu Tempat Sampah Bambu Untuk Peningkatan Kualitas Hidup Bersih Dan Sehat Masyarakat Di Desa Talaga, Kecamatan Mancak, Serang 66 K a i b o n A b h i n a y a 1khasanny Patsambu Tempat Sampah Bambu Untuk Peningkatan Kualitas Hidup Bersih Dan Sehat Masyarakat Di Desa Talaga, Kecamatan Mancak, Serang Meassa Monikha Sari1, Hany Azza Umama2 1JurusanTeknik Sipil, Universitas Serang Raya 2Jurusan Manajemen, Universitas Serang Raya Email 1khasanny Abstrak Pengetahuan serta kesadaran tentang hidup bersih dan sehat bebas sampah sangat penting bagi masyarakat tidak hanya di kota tetapi juga di desa. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan di Desa Talaga masih rendah diamati dari sampah yang berserakan di lingkungan serta tidak tersedianya tempat sampah di rumah maupun di tempat umum. Pengabdian ini bertujuan untuk menambah pengetahuan serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya serta mengajarkan membuat Patsambu tempat sampah bambu. Bentuk kegiatan berupa sosialisasi tentang lingkungan bersih dan sehat bebas sampah bebas bencana serta pelatihan kepada warga untuk membuat tempat sampah dengan memanfaatkan bahan yang ada di alam yaitu bambu menjadi Patsambu Tempat Sampah Bambu. Hasil kegiatan yaitu bertambahnya pengetahuan dan wawasan masyarakat mengenai pentingnyamenjaga lingkungan bersih dan sehat bebas sampah serta meningkatnya ketrampilan warga dalam membuat tempat sampah bambu atau Patsambu . Kata Kuncibersih, Patsambu, sampah, sehat Abstract The knowledge and awareness about clean and healthy life with no rubbish is very important in the community, not only in the city but also in the village. The lack of public awareness to maintain an environmental cleanliness in Talaga Village is still low based on observation on location where the rubbish scattered in the environment and there is no available trash bin at home and public places. This servant program’s objectives are to increase knowledge and public awareness in disposing of garbage in its place and teach the community in making a Patsambu a bamboo trash can. The form of activity is giving socialization to the community about clean and healthy environment with no rubbish and free of disaster then training for residents to make a trash bin by using materials in nature such as bamboo, namely as Patsambu. The results of the activity are the knowledge about importance of maintaining a clean and healthy environment in community has risen and their ability in producing bamboo trash cans have increased. Keywords clean, healthy, Patsambu, rubbish PENDAHULUAN Laju pertumbuhan penduduk saat ini memicu semakin meningkatnya produksi sampah ke lingkungan. Sampah dapat berasal dari rumah, sekolah, industri, perkantoran, pasar, jalan dan lain sebagainya, akan tetapi rumah tangga merupakan sumber penghasil sampah terbesar yang dibuang ke UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, sampah didefinisikan sebagai sisa kegiatan sehari-hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat atau semi padat KAIBON ABHINAYA JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT e-ISSN 2657-1110 Patsambu Tempat Sampah Bambu Untuk Peningkatan Kualitas Hidup Bersih Dan Sehat Masyarakat Di Desa Talaga, Kecamatan Mancak, Serang 67 K a i b o n A b h i n a y a 1khasanny berupa zat organik atau zat anorganik bersifat dapat terurai atau tidak dapat terurai yang dianggap sudah tidak berguna dan dibuang ke lingkungan. Sampah yang dibuang ke lingkungan dapat berupa sampah organik sisa-sisa rumah tangga seperti daun, sisa makanan, kulit buah, sampah anorganik plastik, kaleng, besi, styrofoam, dll serta sampah B3 Bahan Berbahaya dan Beracun seperti batu baterai, bohlam, kemasan pestisida, dll. Sampah yang berserakan di lingkungan sekitar berpotensi menimbulkan berbagai masalah terutama masalah lingkungan, kesehatan, bahkan bencana. Sampah organik bersifat relatif lebih cepat terurai, sedangkan sampah plastik dapat bertahan hingga bertahun-tahun sehingga menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan. Pembakaran sampah plastik tidaklah bijak karena akan menghasilkan gas yang akan mencemari udara dan membahayakan pernafasan manusia, dan jika sampah plastik ditimbun dalam tanah maka akan mencemari tanah dan air tanah Karuniastuti, 2013.Sedangkan sampah B3 adalah sampah yang berbahaya, sangat berpotensi mengancam kesehatan manusia dan lingkungan air, tanah dan udara karena karakteristiknya mudah meledak, mudah terbakar, infeksius, reaktif dan beracun sehingga memerlukan penanganan khusus Iswanto dkk, 2015 Sampah yang terus bertambah dan tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan masalah baik pada pemerintah, sosial masyarakat, kesehatan dan lingkungan Mulasari dan Sulistyawati, 2014. Sampah yang tidak ditangani sebagaimana mestinya akan menimbulkan berbagai dampak negatif. Dari segi kesehatan dapat menyebabkan timbulnya berbagai jenis penyakit. Berdasarkan informasi Kepala Dinas Kesehatan Banten, Sigit Wardojo seperti yang dikutip dalam laman bahwa selama tahun 2017 telah terjadi 114 kasus difteri, yang mana wabah difteri yang disebabkan oleh berkembangnya bakteri corynebacterium diphtheria yang menjangkiti Prov. Banten telah menyebabkan 9 kasus kematian. Salah satu faktor penyebab tingginya kasus diare dan meningkatnya wabah difteri di Banten adalah kurang terjaganya kebersihan lingkungan. Sedangkan dampak bencana banjir berakar dari permasalahan sampah di suatu kawasan meliputi tingginya laju timbulan sampah, kepedulian masyarakat yang masih rendah sehingga suka berperilaku membuang sampah sembarangan, keengganan untuk membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan. Perilaku yang buruk ini seringkali menyebabkan bencana di musim hujan karena drainase tersumbat sampah sehingga terjadi banjir Hardiatmi, 2011 Berdasarkan Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Banten 2017, selama tahun 2015 jumlah kasus penyakit yang timbul paling banyak diantaranya HIV, malaria, TBC, DBD yang mana diare menjadi kasus penyakit yang paling tinggi di Banten., seperti ditunjukkan oleh Tabel 1. Tabel 1. Jumlah kasus penyakit terbanyak di Prov. Banten Tahun 2015 Sumber Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Banten , 2017 Persoalan sampah saat ini tidak hanya menjadi permasalahan di kota-kota besar saja, melainkan juga di membuang sampah sembarangan dilakukan hampir di semua kalangan masyarakat, tidak hanya warga miskin, bahkan mereka yang berpendidikan tinggi juga melakukannya. Ini sangat menyedihkan karena minimnya pengetahuan tentang sampah dan dampaknya. Perilaku buruk ini semakin menjadi karena minimnya sarana kebersihan yang mudah dijangkau oleh masyarakat di tempat umum Kartiadi, 2009 dalam Mulasari dan Sulistyawati 2014. Hal tersebut juga terjadi di Desa Talaga. Desa Talaga merupakan salah satu desa di Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang. Desa Talaga secara geografis terletak berbatasan di • Sebelah Utara dengan Desa Balekambang • Sebelah selatan dengan Kec. Pabuaran • Sebelah Barat dengan Desa Angsana • Sebelah Timur dengan Kec. Waringin Kurung Desa Talaga memiliki topografi berbukit-bukit, dengan kondisi jalan naik turun berkelok-kelok, kanan kiri jalan adalah bukit-bukit dan ladang KAIBON ABHINAYA JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT e-ISSN 2657-1110 Patsambu Tempat Sampah Bambu Untuk Peningkatan Kualitas Hidup Bersih Dan Sehat Masyarakat Di Desa Talaga, Kecamatan Mancak, Serang 68 K a i b o n A b h i n a y a 1khasanny dengan hasil pertanian berupa melinjo, palawija dan bambu. Berdasarkan observasi di lapanganditemukan bahwa kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan lingkungan masih sangat kurang. Hal ini terlihat dari banyak sampah – sampah yang berserakan di pinggir jalan, di belakang rumah, di halaman depan, dan ada juga yang membuang sampah di sungai dan selokan. Di sepanjang jalan utama desa tersebut, tidak terlihat adanya tempat sampah, baik di rumah-rumah penduduk maupun di tempat yang dilakukan kepada masyarakat, ternyata tidak hanya anak-anak, bahkan orang dewasa terbiasa membuang sampah dimana saja, sampah rumah tangga biasanya dibuang di halaman belakang rumah dengan membuat lubang galian, atau dengan menimbun dan membakar sampah tanpa memahami sifat sampah tersebut. Gambar 1. Sampah yang berserakan di sekitar kali Gambar 2. Sampah yang dibuang di halaman belakang rumah Dari hasil observasi maka teridentifikasi beberapa permasalahanyaitu 1. Kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan 2. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang dampak penyakit dan bencana akibat membuang sampah sembarangan 3. Tidak tersedianya tempat sampah di rumah dan di tempat umum 4. Kurangnya wawasan masyarakat bahwa tempat sampah dapat dibuat mandiri menggunakan bahan yang tersedia di alam Berdasarkan permasalahan tersebut, maka sangat perlu diadakan suatu kegiatan pengabdian sebagai solusi yang bertujuan untuk menambah pengetahuan masyarakat di Desa Talaga tentang pentingnya menjaga lingkungan yang sehat dan bersih dari sampah, serta bebas bencana, meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, memberikan wawasan dan mengajarkan masyarakat untuk membuat tempat sampah dari bambu Patsambu. Adapun harapan dari program pengabdian ini yaitu dengan bertambahnya wawasan masyarakat tentang pentingnya lingkungan bersih bebas sampah dan tersedianya tempat sampah maka akan dapat mengurangi kebiasaan membuang sampah di sembarang tempat, sehingga dapat meningkatkan kebersihan lingkungan guna peningkatan kesehatan masyarakat. Manfaat dari pengabdian ini yaitu sebagai bahan pertimbangan bagi masyarakat ataupun lembaga terkait untuk meningkatkan kebersihan lingkungan dengan memanfaatkan material yang tersedia di alam sebagai tempat sampah, meningkatkan kerjasama perguruan tinggi dengan masyarakat dalam upaya peningkatan kebersihan untuk kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dan dapat menjadi kegiatan pengabdian berkelanjutan misalnya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat melalui pengelolaan sampah menjadi produk yang bernilai jual. METODE PELAKSANAAN Lokasi pengabdian yaitu di Kampung Saung Mesjid, Desa Talaga, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang, dengan rute dari Universitas Serang Raya seperti ditunjukkan Gambar 3. KAIBON ABHINAYA JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT e-ISSN 2657-1110 Patsambu Tempat Sampah Bambu Untuk Peningkatan Kualitas Hidup Bersih Dan Sehat Masyarakat Di Desa Talaga, Kecamatan Mancak, Serang 69 K a i b o n A b h i n a y a 1khasanny Gambar 3. Lokasi pengabdian dari UNSERA Tahapan program pengadian ini yaitu sebagai berikut. 1. Observasi ke lokasi untuk menganalisa kondisi lingkungan, wawancara kepada masyarakat untuk mengetahui bagaimana pengetahuan masyarakat tentang sampah dan lingkungan bersih dan sehat bebas sampah sehingga dapat mengidentifikasi permasalahan masyarakat dan memperkirakan apa saja kebutuhan warga serta solusi yang dapat diberikan. 2. Survey ke lingkungan alam sekitar untuk melihat material apa yang dapat digunakan sebagai bahan membuat tempat sampah 3. Dari hasil analisa observasi dan survey, berkoordinasi dengan lurah, RT/RW, aparat setempat untuk mempersiapkan kegiatan selanjutnya 4. Pelaksanaan kegiatan sosialisasi dengan tema Lingkungan Bersih dan Sehat Bebas Sampah Bebas Bencana 5. Persiapan bahan dan alat pelatihan praktek pembuatan tempat sampah bambu Patsambu 6. Pelatihan dan praktek pembuatan tempat sampah bambu Patsambu Pelaksanan sosialisasi serta praktek pembuatan Patsambu ini melibatkan 2 orang dosen serta dibantu oleh 10 orang mahasiswa serta partisipasi aktif masyarakat berbagai kalangan usia. HASIL DAN PEMBAHASAN Program pengabdian dengan tema Patsambu Tempat Sampah Bambu untuk peningkatan kualitas hidup bersih dan sehat masyarakat di Desa Talaga, Kecamatan Mancak, Serang ini diinisiasi oleh dosen dengan dibantu pelaksanaannya secara teknis oleh mahasiswa. Kegiatan yang dilakukan yaitu acara sosialisasi kepada warga masyarakat dengan materi yang disampaikan meliputi sampah dan jenis-jenis sampah, dampak buruk akibat membuang sampah sembarangan, menonton video animasi bagaimana suatu bencana banjir terjadi akibat kebiasaan membuang sampah di kali dan drainase, serta memberi pengetahuan kepada masyarakat bahwa tempat sampah dapat dibuat sendiri dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di alam sekitar kita, artinya tidak perlu mengeluarkan biaya untuk memiliki tempat sampah. Gambar 4. Sosialisasi lingkungan bersih dan sehat bebas sampah Warga diberikan pemahaman bahwa budaya hidup bersih dan sehat, bebas dari berbagai dampak buruk akibat sampah harus ditanamkan kepada masyarakat, terutama pada usia dini. Pembiasaan untuk hidup bersih sejatinya dimulai dari diri sendiri kemudian ditularkan atau diajarkan kepada orang-orang di sekeliling kita. Akan tetapi kenyataannya, masih sangat banyak orang yang tidak menyadari dan memahami hal tersebut, bahkan yang sering dijumpai adalah orang tua membuang sampah semuanya dan hal itu diikuti oleh anak-anak mereka. Seharusnya orang yang lebih tua mampu membimbing anak-anak untuk membiasakan diri hidup bersih salah satunya kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Berbeda dengan kota, daerah pedesaan yang jumlah penduduknya masih relatif sedikit, permasalahan sampah tidak begitu terasa karena sampah yang dihasilkan masih dapat ditanggulangi dengan cara sederhana misalnya dibakar, ditimbun atau dibiarkan mengering sendiriSuyono dan Budiman, 2010. Hal tersebut berlaku untuk sepuluh tahun kebelakang, tidak untuk diterapkan di zaman sekarang mengingat pertumbuhan penduduk di desa pun terus KAIBON ABHINAYA JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT e-ISSN 2657-1110 Patsambu Tempat Sampah Bambu Untuk Peningkatan Kualitas Hidup Bersih Dan Sehat Masyarakat Di Desa Talaga, Kecamatan Mancak, Serang 70 K a i b o n A b h i n a y a 1khasanny meningkat sehingga sampah yang dihasilkan juga bertambah banyak dan dibuang ke lingkungan. Karena memang tidak tersedia tempat sampah. Oleh sebab itu, kegiatan setelah sosialisasi adalah pelatihan praktek membuat tempat sampah sendiri oleh masyarakat. Hasil survey sebelumnya bahwa alam Desa Talaga menghasilkan banyak bambu sehingga bambu dipilih sebagai bahan utama pembuatan tempat sampah, selain itu bambu juga lebih mudah dikerjakan dibandingkan kayu. Gambar 5. Bambu sebagai bahan utama tempat sampah Proses pembuatan tempat sampah ini melibatkan partisipasi masyarakat. Masyarakat mengumpulkan bambu, menyumbangkan berbagai peralatan serta konsumsi. Warga tidak hanya tinggal menggunakan tetapi juga diajarkan proses pembuatannya agar nanti dapat membuat secara mandiri, dapat menghasilkan dalam jumlah yang banyak sehingga kebutuhan akan tempat sampah di Kampung Saung Mesjid khususnya dan di Desa Talaga pada umumnya terpenuhi. Gambar 6. Partisipasi pemuda Desa Talaga Gambar 7. Proses pembuatan Patsambu Tempat Sampah Bambu Praktek pembuatan Patsambu menghasilkan 6 buah Patsambu yang diletakkan di tempat umum seperti di sekolah SD, jalan utama kampung, beberapa rumah warga serta lokasi yang biasa dijadikan tempat berkumpul warga. Gambar 8. Patsambu Tempat Sampah Bambu Capaian dari pengabdian ini adalah 1. Pengetahuan dan wawasan masyarakat bertambah mengenai sampah serta bagaimana hidup bersih dan sehat bebas sampah. 2. Pemahaman dan kesadaran masyarakat meningkat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan pembiasaan diri membuang sampah pada tempatnya sejak dini. 3. Pengetahuan masyarakat bertambah bahwa tempat sampah tidak harus selalu dibeli, tetapi dapat dibuat sendiri dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di alam sekitar. KAIBON ABHINAYA JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT e-ISSN 2657-1110 Patsambu Tempat Sampah Bambu Untuk Peningkatan Kualitas Hidup Bersih Dan Sehat Masyarakat Di Desa Talaga, Kecamatan Mancak, Serang 71 K a i b o n A b h i n a y a 1khasanny 4. Ketrampilan masyarakat dalam membuat Patsambu Tempat Sampah Bambu bertambah. Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih disampaikan kepada 1. Rektor Universitas Serang Raya 2. Dekan Fakultas Teknik dan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis 3. Ketua LPPM dan Kabag Pengabdian Universitas Serang Raya 4. Kepala Desa Talaga beserta jajarannya 5. Masyarakat Desa Talaga, khususnya Kampung Saung Mesjid KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pengetahuan serta kesadaran masyarakat tentang sampah serta hidup bersih dan sehat bebas sampah di Desa Talaga masih sangat kurang dilihat dari banyaknya sampah yang berserakan di lingkungan serta tidak tersedianya tempat sampah yang memadai. Pengabdian ini memberikan solusi dalam bentuk sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya hidup dalam lingkungan yang bersih dan sehat serta praktek membuat tempat sampah dari material yang tersedia di alam yaitu bambu untuk menjadi Patsambu Tempat Sampah Bambu dimana dalam pembuatannya Patsambu melibatkan partisipasi aktif masyarakat sehingga masyarakat dapat memperbanyak secara mandiri. Saran Keberlanjutan program pengabdian ini sangat diharapkan agar upaya peningkatan kualitas hidup yang bersih dan sehat bagi masyarakat Desa Talaga lebih optimal. Pengabdian selanjutnya adalah pengelolaan sampah menjadi produk yang bernilai jual untuk peningkatan ekonomi masyarakat. DAFTAR REFERENSI Hardiatmi. 2011. Pendukung Keberhasilan Pengelolaan Sampah Kota. Jurnal Inovasi Pertanian INNOFARM, 101 p. 50 - 66 Iswanto, dkk. 2016. Timbulan Sampah B3 Rumah Tangga dan Potensi Dampak Kesehatan Lingkungan Di Kabupaten Selman, Yogyakarta. Jurnal Manusia Dan Lingkungan Vol. 23 No. 2, Juli 2016. p. 179 - 188 Kartiadi. 2009. Giatkan Buang Sampah Pada diakses 25 Juni 2019 Karuniastuti, N. 2013. Bahaya Plastik Terhadap Kesehatan dan Lingkungan. Jurnal ForumTeknologi Vol. 3 No. 1. -18 Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Banten. 2017. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Mulasari, dan Sulistyawati. 2014. Keberadaan TPS legal dan TPS Ilegal Di Kecamatan Godean Kabupaten Sleman. Jurnal Kesehatan Masyarakat KEMAS, 122 - 130 Suyono dan Budiman. 2010. Ilmu Kesehatan Masyarakat Dalam Kontek Kesehatan Lingkungan. JakartaEGC UU No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah Wardoyo, Sigit. 2017. Terus Mewabah, Difteri di Banten Menjadi 114 Kasus, diakses 22 Juni 2019 ... Beberapa masyarakat juga ada yang terbiasa membakar sampah di sekitar rumah. Perilaku terhadap sampah tersebut sudah menjadi kebiasaan yang sulit untuk dirubah oleh masyarakat sehingga berdampak pada pola pikir yang kurang sesuai Sari & Umama, 2019. Selain minimnya kesadaran masyarakat, tidak adanya pengadaan TPS di sepanjang jalan utama desa, di rumah-rumah penduduk bahkan di tempat umum juga menjadi faktor pendorong dan mempengaruhi perilaku masyarakat membuang sampah tidak pada tempatnya Elamin et al., 2018. ...Ridha Nirmalasari BustanMuhammad Danni IrawanNoufal Fajar Rizqullah HaryantoPipit SyafitriSampah organik dan sampah anorganik merupakan sampah yang sering dihasilkan oleh manusia setiap harinya. Semakin banyak populasi manusia juga akan menambah volume sampah di suatu daerah karena sampah dihasilkan dari berbagai kegiatan sehari-hari seperti pasar, pertokoan, pedagang kaki lima, bahkan kegiatan rumah tangga. Apabila masyarakat tidak dapat mengelola dan membuang sampah sembarangan akan mencemari lingkungan. Sampah menjadi suatu permasalahan yang tidak dapat dihindari, sehingga diperlukan suatu penanggulangan agar nantinya tidak menimbulkan dampak yang serius. Pelaksanaan program pengabdian ini bermaksud untuk menanggulangi sampah di Desa Jabiren dengan memberikan pemahaman terkait sampah melalui penyuluhan serta pengadaan TPS. Kebiasaan membuang sampah di bantaran sungai tidak lain disebabkan oleh kurangnya kepedulian akan kebersihan lingkungan dan juga dipicu oleh tidak adanya tempat pembuangan sampah disekitar tempat tinggal mereka. Metode PAR Participatory Action Research merupakan suatu metode pengabdian yang berdasarkan pada masalah yang ditemukan di lokasi dan selanjutnya akan memberikan jalan keluar dari masalah tersebut berupa solusi. Hasil Penyuluhan mengenai sampah dan pengadaan TPS. TPS merupakan wadah penampungan sampah sementara yang nantinya sampah yang sudah terkumpul akan diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir TPA. Kesimpulan Pengadaan TPS dan penyuluhan mengenai sampah membuat masyarakat sadar akan kebersihan lingkungan dan tidak lagi membuang sampah Keberhasilan Pengelolaan Sampah KotaTalaga Masyarakat DesaMasyarakat Desa Talaga, khususnya Kampung Saung Mesjid Hardiatmi. 2011. Pendukung Keberhasilan Pengelolaan Sampah Kota. Jurnal Inovasi Pertanian INNOFARM, 101 p. 50 -66Timbulan Sampah B3 Rumah Tangga dan Potensi Dampak Kesehatan Lingkungan Di Kabupaten SelmanDkk IswantoIswanto, dkk. 2016. Timbulan Sampah B3 Rumah Tangga dan Potensi Dampak Kesehatan Lingkungan Di Kabupaten Selman, Yogyakarta. Jurnal Manusia Dan Lingkungan Vol. 23 No. 2, Juli 2016. p. 179 -188Suyono Dan BudimanSuyono dan Budiman. 2010. Ilmu Kesehatan Masyarakat Dalam Kontek Kesehatan Lingkungan. JakartaEGC UU No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah Wardoyo, Sigit. 2017. Terus Mewabah, Difteri di Banten Menjadi 114 Kasus, diakses 22 Juni 2019
bahan dan alat gunting bambu triplek paku cat langkah-langkah -siapkan bambu yang sudah dibelah tipis-tipis lalu siapkan triplek yang sudah dibentuk menjadi bulatan -kemudian sebelum merakit, paku triplek dengan ujung bambu sampai menempel -dan mulailah merakit sampai berbentuk menjadi seperti tabung dan ukuran sesuai dengan kemauannya masing-masing -agar tampak lebih indah silahkan tambahkan cat dibagian bambu-bambu tersebut sekian info dari saya semoga bermanfaat .TERIMAKASIH Iklan
Magnus Larsson/Getty Images/iStockphoto Kumpulan plastik di lautan. – Plastik kini kita temukan hampir di setiap tempat. Sejak 1950-an, jumlah produksi plastik meningkat jauh lebih cepat dibanding material lainnya—dan ini menjadi tren yang mengkhawatirkan. Data dari UN Environment menyatakan bahwa secara global, manusia menghasilkan 300 juta ton plastik setiap tahunnya. Namun, hanya 9% yang berhasil digunakan kembali atau didaur ulang. Sekitar 12%-nya telah dibakar dan sisanya menumpuk di tempat pembuangan sampah atau berakhir di lautan. Ini sangat mengkhawatirkan karena tidak hanya mengotori lingkungan, sampah plastik juga berbahaya bagi ekosistem yang tinggal di sana. Diketahui bahwa 1 dari 3 spesies hewan laut ditemukan mati terjerat sampah plastik. Dan sekitar 90% burung laut memiliki potongan plastik di perutnya. Tak dapat dipungkiri, plastik memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sikat gigi yang kita gunakan setiap hari pun terbuat dari plastik. Baca Juga LastSwab, Cotton Bud Ramah Lingkungan yang Bisa Dipakai Berkali-kali Selama berabad-abad, sebenarnya sikat gigi terbuat dari bahan alami. Namun, pada awal abad ke-20, para produsen mulai menggantinya dengan plastik dan sejak saat itu tidak pernah berganti ke material lainnya. Jumlah total sikat gigi plastik yang diproduksi, digunakan, dan dibuang setiap tahunnya terus bertambah sejak yang pertama kali dibuat pada 1930-an. Membuang satu sikat gigi plastik tampaknya memang tidak berbahaya, tapi asumsikan jika kita mengganti sikat gigi tiga bulan sekali, berarti ada empat sikat gigi di tempat sampah kita setiap tahunnya. Bayangkan jika ada tujuh miliar orang di dunia yang melakukan hal serupa, maka ada 28 miliar sikat gigi plastik yang dibuang setiap diperhatikan bahwa plastik memiliki sifat sulit terurai. Jadi, sikat gigi plastik yang kita gunakan saat kanak-kanak mungkin masih ada di luar sana dan belum hancur sama sekali. Yang lebih menyedihkan, sampah kita tersebut berakhir di perut hewan-hewan laut. Seperti yang terjadi pada burung albatross di Midway Atoll ini misalnya. “Saya ingat pernah melihat induk dan anak burung yang kesulitan mengunyah sesuatu. Ketika diperhatikan lebih dekat, ternyata induk itu sedang berusaha menghancurkan sikat gigi plastik agar sang anak bisa memakannya,” cerita Wieteke Holthujizen, peneliti burung yang bertugas di Midway. Cara sederhana untuk membuat perbedaan adalah dengan beralih ke produk yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Salah satunya dengan sikat gigi berbahan dasar bambu. Bahan alami ini menjadi alternatif luar biasa dari plastik karena sama-sama kuat dan tahan lama. Bedanya, bambu bersifat biodegradable, yakni memiliki kemampuan untuk terurai dengan aman dan relatif cepat serta dapat membaur kembali ke lingkungan. Bambu juga mampu tumbuh dengan cepat—2-3 kaki dalam waktu 24 jam. Artinya, lebih sedikit area yang diperlukan untuk menanamnya sehingga kehidupan yang berada di sekitarnya tidak tersentuh sama sekali dan tidak terancam punah. Untuk lingkungan sendiri, bambu memiliki manfaat yang menakjubkan karena tanaman ini secara efisien menyimpan karbon. Ia menyerap karbondioksida dua kali lebih banyak dibanding pohon. Juga menghasilkan oksigen dalam jumlah besar—30% lebih banyak dibanding tanaman lain. Selain itu, tanaman bambu memiliki akar kuat yang membuat tanah lebih stabil. Dengan kata lain, ia dapat menstabilkan dan memulihkan tanah, serta mencegah tanah longsor. Jadi, di negara-negara yang rawan longsor, bambu bisa menjadi pilihan yang baik. Rahmad Azhar Hutomo/National Geographic Indonesia Tak lagi memakai bahan dasar plastik, Pepsodent Natural Bamboo menjadi sikat gigi ramah lingkungan pertama di Indonesia karena menggunakan bahan bambu. Melihat banyaknya manfaat yang ditawarkan bambu dan dalam rangka membatasi produksi plastik, Pepsodent meluncurkan sikat gigi Pepsodent Natural Bamboo. Perlu diketahui bahwa gagang Pepsodent Natural Bamboo terbuat dari 100% bambu yang ramah lingkungan. Pepsodent Natural Bamboo juga memiliki bulu sikat 0,01mm yang lembut untuk membersihkan gigi. Selain itu, kemasannya pun terbuat dari kertas daur ulang yang ramah lingkungan dan biodegradable. Dalam acara peluncuran sikat gigi Pepsodent Natural Bamboo yang dihadiri media massa dan komunitas cinta lingkungan se-Jabodetabek, Fiona Anjani Foebe, Head of Marketing Oral Care PT Unilever Indonesia Tbk mengatakan, “Setiap orang memiliki peran dan kontribusi dalam menjaga kelestarian bumi melalui langkah kecil, salah satunya melalui pemilihan produk yang digunakan sehari-hari. Saat ini, banyak dari masyarakat Indonesia semakin menyadari pentingnya melestarikan lingkungan dan mulai menerapkan gaya hidup ramah lingkungan." Atas dasar itu, lanjut Fiona, Pepsodent Natural Bamboo hadir sebagai pilihan produk bagi masyarakat yang ingin mengambil langkah kecil untuk mulai mengurangi penggunaan produk berbahan plastik serta turut membantu SenyumkanBumi. Baca Juga Film Semesta, Kisah 7 Sosok yang Berusaha Memperlambat Dampak Perubahan Iklim Sikat gigi Pepsodent Natural Bamboo ini juga sejalan dengan komitmen global Unilever yang menyatakan bahwa paling lambat pada tahun 2025 mereka akan memproduksi kemasan plastik yang dapat didaur ulang, diurai dan digunakan kembali. Unilever juga akan menggunakan sekurang-kurangnya 25% konten daur ulang dalam kemasan plastiknya, mengurangi setengah dari penggunaan virgin plastic atau plastik baru dengan cara mengurangi penggunaan kemasan plastik sebanyak lebih dari ton dan mempercepat penggunaan plastik daur ulang, serta membantu pengumpulan dan memroses lebih banyak kemasan plastik daripada yang dijualnya. Melihat itu semua, saatnya kita benahi perilaku dan kebiasaan kita untuk lebih ramah lingkungan. Salah satu langkah kecil yang dapat kita lakukan saat ini adalah dengan mengganti penggunaan sikat gigi plastik menjadi sikat gigi yang lebih ramah lingkungan seperti Pepsodent Natural Bamboo, sebuah langkah kecil untuk SenyumkanBumi. Video Pilihan
cara membuat tempat sampah dari bambu